Perlukah klarifikasi keperawanan?

11 December 2008 comments: 1

Dear Pak Ustad, aq sdg bingung, btw aq pacaran dgn seorang duda, yg sdh punya 2 org anak dewasa. Krn sdg ada masalah (hub aq gak disetujui ortuku), jd aq sering tinggal di rmhnya (sampai menginap) utk menenangkan diri & menghibur hatiku. Dgn kejadian ini, tetangganya jd resah, & sampai tetangganya blg aq & co ku itu kumpul kebo. Tapi Pak Ustad, walau qta tinggal serumah qta gak sampai berhubungan suami-istri, dia sngt menjaga kesucian aq. Dan krn bukan qta berdua yg tinggal di rmh itu, msh ada anaknya aq berpikiran msh save krn msh ada org ketiga yg menghindarkan qta dr fitnah. Tapi anggapan tetangga2 di situ jd heboh, mereka berpikiran “kotor” terhadap qta. Pdhl aq bs buktikan scr medis kalo aq msh virgin sbg bukti bahwa hal kotor itu hanya ada dlm pikiran mereka saja.

Skrg sdh setahun aq gak pernah ke rmh itu lg. Yg meresahkanku adalah masalah itu gak ada penyelesaian. Pernah aq blg pd anaknya perlu gak kalo aq undang tetangga2 itu & menjelaskan kalo aq & ayahnya gak sampai brhubungan suami-istri dgn bukti medis dr dokter. Tapi anaknya blg gak usah nanti jg reda sendiri.

Menurut Pak Ustad, aq hrs bagaimana. Aq ingin nama baik aq & keluarga itu pulih, tp masalah ini sdh lewat satu tahun. Aq ingin bersilaturahmi lg ke rumah itu (tanpa menginap lg tentunya), menurut Pak Ustad bagaimana? Perlu gak aq ksh klarifikasi dgn bukti medis ke tetangga2 yg ada disitu walau mslh ini sdh lewat 1 tahun?

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Mendapat sangkaan buruk, apalagi kalau kita sebetulnya tidak melakukannya, memang menyakitkan. Aku dapat memaklumi keresahanmu dalam menghadapi kasus yang belum terselesaikan ini.

Dari sudut pandang keresahan ini, mungkin bisa dikatakan bahwa kau membutuhkan klarifikasi itu. Namun bagaimana dengan efektivitasnya? Apakah bukti medis itu dapat meyakinkan mereka?

Kalau mereka menaruh kepercayaan besar pada apa kata dokter, bisa saja bukti medis itu efektif. Lain halnya bila mereka kurang percaya, apalagi andai mereka pernah menyimak bacaan yang seperti berikut ini.

Di sebuah negara seperti Turki, ada dokter yang bersedia melakukan uji keperawanan atas permintaan pasien, meskipun hal ini ditentang oleh Asosiasi Kedoketaran di sana. Uji keperawanan sebenarnya tidak berarti sama sekali karena selaput dara yang robek atau rusak bukan berarti seorang wanita pernah melakukan hubungan seks.

Hal itu, menurut Wimpie, dapat disebabkan penggunaan tampon (sumbat kapas sebesar jari) atau kebiasaan masturbasi memakai alat yang dimasukkan pada vagina. Di lain pihak, ada pula para wanita yang organ intimnya tidak memiliki selaput dara dengan persentase kurang dari 0,03 persen (Jenry et al 1987).

Sebaliknya, keutuhan selaput dara pun tidak serta merta menunjukkan seorang wanita tak pernah melakukan hubungan seks. Faktanya, selaput dara tidak harus selalu robek setelah berhubungan intim. Hasil pengujian selaput dara pada 1.000 remaja putri yang pernah melakukan seks lewat vagina menunjukkan kebanyakan selaput tampak kacau, tidak menentu, dan mengumpul di bagian pinggir vagina. Jarang terjadi selaput dara terbelah secara komplet atau benar-benar sobek.

Jadi, menurut kutipan (dari harian Kompas) tersebut, tidak ada bukti medis yang bisa menunjukkan apakah seorang wanita pernah berhubungan seksual ataukah belum. Dari sudut pandang ini, kamu tidak perlu membawa bukti medis.

Kemudian, mestikah kau biarkan sangkaan buruk mereka itu begitu saja, dengan harapan bahwa itu akan reda dengan sendirinya? Tidak juga. Bisa saja itu akan reda dengan sendirinya, tetapi bisa pula sebaliknya.

Lantas, tidak adakah solusinya? Ada! Solusinya ada.

Kasusmu merupakan persoalan sosial-kultural, bukan medis. Akan lebih efektif bila penyelesaiannya bersifat sosial-kultural pula.

Caranya, kau dan terutama cowokmu itu perlu lebih mengakrabkan diri kepada mereka. (Karena tempat tinggal dia lebih dekat dengan mereka, dialah yang perlu lebih aktif daripada dirimu.) Sebab, terhadap orang lain yang dianggap masih asing, orang-orang biasanya mudah bersangka buruk; sebaliknya, terhadap orang yang sudah dianggap akrab, orang-orang umumnya mudah bersangka baik.

Jadi, daripada kembali mengunjungi cowokmu (walau tanpa menginap), masih lebih baik mengunjungi mereka (yang bersangka buruk kepadamu). Tentu tak harus semuanya kau kunjungi satu persatu. Kau bisa lebih memprioritaskan orang yang paling berpengaruh di antara mereka.

Untuk lebih melapangkan ikhtiarmu ini, kau dapat menyertainya dengan zikir dan doa yang relevan dengan kasusmu ini. Kepada Allah sajalah kita mohon pertolongan atas apa yang mereka sangka terhadap kita. Untuk itu, silakan baca buku Doa & Zikir Cinta, Bab 10, "Atasi Masalah Gosip & Fitnah".

Demikian saranku. Semoga Allah Sang Mahaperkasa dan Mahabijaksana senantiasa menyertaimu. (Aamiin.)

--> Read more...

Menaruh perhatian tanpa memaksakan kehendak

05 November 2008 comments

Asslamuallaikum.. pa ustadz, saya seorang gadis yang saat ini sedang mempunyai masalah tentang cinta. Saya mencintai seseorang laki-laki, dan hubungan kami sudah lebih dari 1 th. hubungan kami slalu da masalah, dan saya slalu berusaha untuk mempertahankan hubungan ini. Pacar saya merasa saya sudah memaksakan dan membuat dia tertekan. padahal saya tidak mempunyai niat seperti itu, saya hanya ingin menjadi seorang istri yang shaleh kelak untuk dia. Tapi sepertinya saya sudah salah langkah selama ini karena saya sering memaksa dia..dan saya pun merasa ini sudah bukanlah diri saya lagi.. tapi cinta itu tetap melekat dalam hati saya.

Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya ingin meyakinkan dia, bahwa saya bukanlah seorang yang jahat, saya ingin mengabdi kpdnya dg menjadi istri yang shaleh. Cara tepat seperti apa yang harus saya lakukan, agar dia mau memahami niat saya ini??

Terimakasih sebelumnya.. Wassalamuallaikum..

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Wa'alaykumussalam..

Adanya konflik dalam hubungan pacaran yang sudah berlangsung agak lama itu wajar. Tentu ini bukan berarti kita tak perlu mengupayakan solusinya.

Untuk mengupayakan solusinya, yang utama adalah mencari akar permasalahannya. Dari kata-katamu di atas, kurasa akar persoalannya adalah kurangnya pemahaman di kedua pihak bahwa sifat masing-masing berlainan.

Kita perlu memahami bahwa setiap individu itu memiliki latar belakang, watak, dan pembawaan yang berlainan. Dalam kasusmu, mungkin yang paling menonjol adalah pembawaan dirimu sebagai wanita dan pembawaan dirinya sebagai pria.

Pada umumnya, perempuan cenderung pada kebersamaan, sedangkan laki-laki pada kemandirian. Bila pria terlalu condong pada kemandirian, maka wanita akan menganggapnya kurang perhatian. Sedangkan kalau cewek terlampau condong pada kebersamaan, maka cowok akan menyangkanya memaksakan kehendak. Atas dasar-dasar ini, solusinya adalah sebaga berikut.

Di satu sisi, hargailah kemandirian dia (sebagai pria). Berikanlah dia ruang gerak yang lebih lapang. Biarkanlah dia mengambil sikap sendiri dalam hal-hal yang tidak berpengaruh besar terhadap hubungan kalian. Tak usah meributkan hal-hal "kecil" seperti potongan rambutnya, warna bajunya, cara dia mengisi waktu luang, dan lain-lain.

Di sisi lain, mintalah dia untuk menghargai kehendakmu akan kebersamaan kalian. Mintalah secara halus untuk dilibatkan dalam hal-hal yang mungkin berpengaruh besar terhadap hubungan kalian. "Cara halus" ini adalah meminta dia mengungkapkan pandangannya mengenai hal-hal yang menurut dirimu akan berpengaruh besar terhadap hubungan kalian. Lalu jadilah pendengar yang baik.

Untuk menjadi pendengar yang baik, lihat artikel "10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik". Untuk keterangan yang lebih lengkap, silakan simak buku Taaruf Forever.

Demikian saranku. Semoga dengan kehendak Allah, kau dapat mengatasi kasus ini dengan sebaik-baiknya.

Wassalaam..

--> Read more...

Rayuan SMS Cinta

16 October 2008 comments

Kalimat cinta mungkin telah berevolusi, dari kata sakti "roses are red" yang biasa dimulai untuk sebuah rayuan cinta, menjadi kalimat singkat yang menggoda. Hasil survei AT&T mengungkap, kian banyak pasangan yang mengirimkan SMS manis lewat ponselnya kala mood mulai datang.

Demikian petikan menarik hasil surveinya:

  • 68 persen pengguna SMS mengaku pernah mengirim kata cinta lewat pesan singkat.
  • 67 persen mengaku kirim SMS untuk melancarkan rayuan (flirting).
  • 52 persen bilang "thinking of you" adalah kalimat umum yang biasa mereka kirimkan kepada pasangan maupun teman kencannya.
  • 28 persen mengindikasikan setidaknya mengirim SMS tiga kali sehari kepada pasangan cintanya.

Mengirim SMS cinta bukannya tanpa tantangan. Satu hal yang hebat tentang seni berkirim pesan singkat dalam hubungan baru ialah waktu yang diperlukan untuk merangkai segala pemikiran dan keberanian sebelum memulai komunikasi. Di satu sisi, hal ini juga bisa membuat sang pasangan di seberang sana merana dalam ketidakpastian jika balasan SMS yang ditunggu tak kunjung datang.

  • 84 persen yang disurvei percaya, pesan SMS sering kali salah diartikan pasangan.
  • 24 persen bilang, situasi yang paling bikin down pasangan ialah saat SMS lambat direspon.
  • namun, 82 persen mengaku akan menjawab atau merespon SMS tersebut secepat mungkin.
  • sepertiga pengguna SMS yang tengah kencan atau telah menjalin hubungan, akan kecewa jika pasangannya merespon telepon yang masuk saat mereka tengah berkencan.
  • meski demikian, tetap saja 44 persennya mengaku akan tetap nekat mengangkat teleponnya meski tengah dalam situasi berkencan.

-------
Tulisan di atas merupakan kutipan selektif dari Achmad Rouzni Noor II, "Cinta Pada SMS Pertama", di detikinet.com

--> Read more...

Komentar Manis